title

Blog

 
Posted by bem in Opini Pembakar, sosial

Apa Kabar Anak Indonesia?

Saat saya kecil, saya terbiasa pulang ke rumah di sore hari. Menghabiskan waktu dengan bermain petak umpet, kelereng, lompat tali, betengan, dan lain semacamnya. Tak jarang, saya berlarian, dan pulang ke rumah dalam keadaan berpeluh keringat.  Sering pula, saya dimarahi ibu karena kebiasaan itu, namun saya tetap senang-senang saja, karena betapa bahagia berkumpul dengan teman-teman, bertukar canda, dan segala hal yang membuat kami bahagia.

Namun sekarang, zaman sudah berubah. Dimana-mana, ketika saya melihat anak kecil, yang saya lihat bukanlah bermain dengan teman-teman di sekelilingnya, bukan raut muka bahagia, bukan wajah kelelahan mereka, melainkan keseriusan nampak dari raut wajah mereka yang menggenggam benda di depannya, sering kita menyebutnya gadget.

Indonesia, negara berpiramida penduduk muda (expansive) dengan jumlah natalitas melimpah, menduduki peringkat 4 pada tahun 2015 dengan jumlah penduduk 256 juta orang, diperkirakan naik menjadi peringkat 3 pada tahun 2050 dengan jumlah penduduk 366 juta orang dilansir dari Tempo.co (19/8/2015) menurut Population Reference Bureau.

Namun, banyaknya anak yang lahir seringkali tidak diimbangi dengan pemahaman pendidikan dari orangtua maupun lingkungan sekitar. Miris ketika membaca berita bahwa anak-anak  saat ini terlena akan hadirnya gadget. Menurut survei penggunaan  internet oleh anak-anak sebesar : 63% eksis di Facebook, 9 % eksis di Twitter, dan 19 % main game  9% sisanya menjawab lain-lain. Selain update status, sebanyak 42% anak-anak juga memiliki kebiasaan main game di Facebook (Gramedia Majalah Indonesia Hottest Insight (IHI) pada tahun 2013). Untuk tahun 2016 masih bermain diangka-angka tersebut, perubahan hanya pada jenis sosmednya saja.

Dilihat dari data statistik diatas, hanya tersisa 9% dari total penggunaan internet oleh anak-anak yang menjawab lain-lain. Dari 9% itu presentase yang amat kecil dan dari 9% itu belum tentu browsing hal-hal positif.

Sebelum era digital merajai kehidupan kita, coba tengok kembali ke belakang, banyak tokoh-tokoh bangsa ini yang mampu menelurkan ide orisinil yang memberikan manfaat bagi setiap elemen masyarakat. Hal tersebut merupakan ciri yang membedakan dengan generasi sekarang dimana informasi dapat diperoleh dengan mudah, namun informasi yang diperoleh sebatas permukaan saja, tanpa mengetahui hingga ke akar rumput permasalahan. Penggunaan teknologi memang bagus asal digunakan secara bijak. Karena pada dasarnya teknologi hanyalah alat untuk membantu memudahkan pekerjaan kita, bukan kebutuhan utama hingga mengabaikan sekitarnya.

Apabila kita membiarkan fenomena anak yang lebih dekat dengan gadget dibandingkan lingkungan sekitarnya terus berlanjut, mau jadi apa negara ini nanti ke depan? untuk itu dibutuhkan peran berbagai pihak untuk menanggulangi fenomena yang terus berlanjut ini. Khususnya kita sebagai pemuda untuk memberikan pengarahan akan pentingnya pendidikan dan kehidupan bersosial. Senantiasa kita dengungkan kalimat berikut ke pelosok negeri, kepada adik-adik kita di seluruh Indonesia.

“Potong dahanmu dan terbanglah. Jika dalam perjalanan kau mendapat hambatan, jangan pernah ragu untuk bertanya. Tangan kami terbuka untukmu karena kita adalah kakak beradik dalam bangsa ini.”

 

Dian Pitah dan Isna Nur Insani

Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) 2015