mea
MEA, Lalu Kita Harus Bagaimana ?
February 3, 2016
kantong-plastik-sampah
Ayo Diet Bareng!
February 21, 2016
Show all

Siap Ber-BH?

fisip

 

Akhirnya, kita bertemu kembali dengan masa-masa dimana bangun pagi adalah sebuah keharusan. Setelah sekian bulan lamanya (terhitung dari sebelum libur Natal) kita dimanjakan dengan sebuah ketidakharusan akan bangun pagi. Rutinitas abnormal yang harus kita jalani lagi.

Terhitung mulai Senin tanggal lima belas bulan dua, kita kembali menjejali ruang-ruang kelas, yang mungkin masih belum ada perubahan signifikan. Kita kembali menghirup udara dari AC yang setengah-setengah, pilek. Kursi-kursi yang sudah semakin berumur. Mungkin, mereka sudah diduduki semenjak bapak atau ibu kita kuliah di kampus ini. Atau, proyektor yang masih setengah tersadar, yang harus dihidupkan dengan sengget atau minimal seorang kawan kita yang berbadan tinggi yang menghidupkannya. Ruang kelas masih sama saudara-saudara.

Tapi ternyata, ketika kita berjalan sebelum masuk kelas, melewati Public Space, ada yang berbeda. Nampak sudah berdiri tegak nan gagah sebuah mesin-kalau boleh dikata demikian-penyedia air. Water dispenser, tertera di tubuh mesin tersebut. Mesin ini bisa mengeluarkan air dingin dan panas. Jadi, kita tidak perlu repot-repot ketika sedang haus untuk mencari penawarnya. Sepengamatan saya, mesin penyedia air ini ada di seluruh fakultas di kampus yang mau ulang tahun ke empat puluh ini. Kalau mungkin sore hari selepas kuliah kita terjebak hujan di kampus, seduh saja air panas. Lalu kita sandingkan dengan gutdei atau vopmi. Sambil wifi-an di Public Space kita bisa menikmati hangatnya kopi. Sungguh, kampus memberikan kenyamanan terbarukan untuk kita.

Ternyata, tidak hanya mesin penyedia air saja yang baru di fakultas kita. Kini kita semakin dimanjakan dengan tempat makan yang lebih luas. Saat ini, kantin atas kembali berias diri. Sudah dibangun beberapa spot makan yang lebih enjoy. Ada di taman depan Sekretariat Himpunan dan ada pula di samping kantin atas. Kini, kita tidak perlu lagi berdesak-desakan untuk makan. Fakultas benar-benar mengerti apa yang kita inginkan. Kita bisa menikmati hidangan makan siang dan makan-makan lainnya dengan nyaman. Terlebih tempat makan yang ada di taman depan Sekretariat Himpunan. Disana, kita bisa bersantap ria sembari melihat mahasiswa-mahasiswi berseliweran. Menikmati keindahan fakultas lewat mahasiswi yang beberapa diantaranya sering terlihat di instagram Anak UNS Cantik. Nikmat mana lagi yang kau dustakan?

Semakin kesini semakin kita rasakan beberapa perubahan yang ada khususnya di fakultas kita. Paling mudah diamati adalah perihal pembangunan. Gedung 4 kini memiliki fasilitas lift, dimana kita tidak akan berkeringat-ria hanya untuk naik ke lantai lima. Atau yang lebih terbarukan, ya tadi, penambahan fasilitas nongkrong bagi mahasiswa di sekitaran kantin.

Mungkin sebagian kita berpikir ini kenapa tumben-tumben fakultas menyediakan fasilitas demikian. Biasanya ketika kita minta sesuatu  ketika audiensi cuma dianggap angin lalu saja. Eh, maksud saya belum ditindaklanjuti. Karena ada bantuan luar biasa atau apa?

Menurut hemat saya sih ini ada kaitannya dengan UNS yang sudah mau menuju kampus PTN BH. Eits bukan, be-ha disini bukan seperti apa yang dipikirkan teman-teman sekalian. PTN BH merupakan perwujudan kampus berbadan hukum. Dimana nantinya kampus bisa mencari pemasukan selain dari yang disanguni sama Pemerintah. Kalau tafsiran dari pasal 65 ayat 1 UU Nomor 12 tahun 2012, kampus yang sudah memakai be-ha mempunyai keluasaan dalam menyelenggarakan pendidikan tinggi secara otonom dalam rangka menghasilkan pendidikan tinggi yang bermutu. Pengelolaan secara otonom disini, juga mencangkup perihal pemasukan pendanaan. Kalau berdasarkan pasal 3, Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2013, sumber dana Perguruan Tinggi yang sudah punya be-ha bisa didapatkan melalui banyak sumber, selain dari alokasi APBN, juga bisa dari masyarakat pun juga hasil kerjasama Tridharma. Dana dari masyarakat dapat berwujud dari sumbangan individu/perusahaan. Sedang bentuk kerjasama Tridharma bisa melalui adanya usaha yang dimiliki kampus dan semacamnya.

Dengan diperbolehkannya mendapatkan sumber dana selain dari sangu Pemerintah, kampus memiliki potensi untuk merangkul pihak ketiga. Dan bisa jadi dari kerjasama ini yang pada akhirnya menghasilkan bentuk-bentuk nyata yang dapat kita saksikan: pembangunan.

Pembangunan memang berjalan demikian adanya. Tidak menampik kemungkinan kedepan akan semakin banyak bangunan yang berdiri. Entah itu selaras dengan kebutuhan perkuliahan maupun hanya sebatas titipan dari pihak ketiga, siapa tahu? Tapi yang menjadi kekhawatiran terbesar saya saat ini sih adalah apabila pembangunan yang terus menerus ini mengesampingkan fungsi dari apa yang dibangun dan apa yang ditinggalkan. Maksudnya begini, fungsi yang dibangun berkaitan dengan seberapa pentingkah sesuatu itu dibangun bagi keberlangsungan pembelajaran di fakultas. Tentu kita tidak ingin alasan utama pembangunan hanya sebatas karena pesanan pihak ketiga. Atau hanya karena gengsi akan suatu hal, misalnya, “Fakultas sosial politik di Indonesia itu sebagian besar punya gedung X, kenapa kita enggak?” Yang menjadi dasar bukan perkara punya atau tidaknya, tapi seyogyanya perihal dibutuhkan atau tidak. Percuma nantinya fakultas mendirikan sebuah bangunan tapi kita mahasiswanya tidak dapat menikmatinya dengan nyaman. Contoh paling simple adalah manakala ingin menggunakannya harus membayar dengan harga tertentu. Biasanya dengan dalih perawatan dan sebagainya. Tapi kalau orientasi pembangunan didasari atas kebutuhan yang itu memang menjadi sarana pendukung pembelajaran, harusnya lebih diutamakan dari sekedar gengsi semata. Meskipun juga dengan beberapa catatan yang harus digarisbawahi semisal fungsi yang maksimal atau tidaknya.

Pembangunan yang terus menerus juga tidak boleh megesampingkan sesuatu yang akan ditinggalkan. Misalnya , naudzubillah tiba-tiba ada wacana akan dibangun gedung Y di Hutan FISIP. Menurut saya, ini jelas-jelas akan meniadakansuatu hal yang kiranya lebih bermanfaat, atau sederhananya alih fungsi. Tentu kita tidak ingin, paru-paru fakultas kita ditiadakan begitu saja, bukan? Sangat tidak diharapkan manakala nantinya hutan FISIP digantikan dengan bangunan-bangunan yang malah akan menjauhkan dari kesejukan. Lha wong kampus saja mencanangkan green campus, mosok hutan FISIP yang notabene menjadi salah satu penunjang malah ditiadakan? Lha nggih pripun.

Tentu kita sadar, kita akan masuk ke fase dimana komersialisasi pendidikan terutama di tataran kampus semakin nyata adanya. Alih-alih untuk upaya meningkatkan layanan pembelajaran, malah bisa jadi sebatas perdagangan dalam tubuh pendidikan. Bukan maksud saya untuk memunafikkan itu semua. Tapi, komersialisasi pendidikan ini memang patut kita jadikan ancaman. Karena imbas dari ini, sekali lagi bisa jadi, akan merembet pada biaya belajar kita di kampus. Mungkin dalih “Fasilitasnya udah mumpuni, mosok bayarnya sedikit?” menjadi senjata kunci nantinya. Tentu bukan itu kan yang kita harapkan?

Maka, segala macam yang menyangkut hajat hidup banyak kepala di kampus khususnya fakultas kita, semisal pembangunan, perlu kita kawal bersama. Karena hal-hal demikian sudah sewajarnya menjadi perhatian kita bersama.

Tentu kita tidak ingin bukan adik-adik kita nantinya hanya sekedar mendapat cerita sejuknya hutan fisip yang sudah menjadi bangunan tinggi megah tapi bikin gerah?

Selamat berkuliah, bosque!

 

Addin Hanifa

Ilmu Komunikasi FISIP UNS.

bem
bem