title

Blog

 
Posted by bem in Info BEM

Selamat Datang Wahai Para Pengganti

Kamis 18 Agustus 2016, Joe, seorang pemuda yang berasal dari daerah nan jauh disana, pada akhirnya dapat menghirup segarnya udara baru di kota yang baru ia datangi, tepatnya adalah kota Solo. Jika diingat-ingat kembali begitu banyak perjuangan yang ia jalani untuk sampai di kota ini, kota yang katanya memiliki salah satu universitas terbaik di negeri ini namun entah baik dalam segi apa dan apa indikator yang dipakai dalam penilaiannya. Di Universitas ini merupakan lingkungan yang baru bagi Joe terlebih ketika Joe diberitahu oleh sang rektor mengenai apa itu konsep ‘kampus terbaik’ dia tidak diberikan sesi tanya jawab untuk mengetahui seluk beluk kampus yang akan dia tempati ini.

Namun Joe tidak dapat membohongi dirinya sendiri jika ia merasakan suatu perasaan yang luar biasa, senang? Pasti. Sedih? Juga ada kok, karena harus meninggalkan daerah asal dan keluarga. Heran? Tidak ketinggalan, karena dia menanyakan berbagai hal absurd di kampus barunya. Salah satunya adalah ketika acara pembukaan penyambutan mahasiswa baru, hal absurd itu adalah datangnya alumni ‘brilian’ dari kampusyang sangat dipuja oleh para pejabat kampus.

Orang itu adalah seorang motivator bersertifikat internasional, mengagumkan bukan? Ketika kita tahu bahwa alumni kampus kita sudah pergi keberbagai negara untuk memotivasi orang-orang. Salahkah hal itu? Menurut Joe tidak ada yang salah, namun kenapa motivator? Kenapa bukan alumni yang sudah menulis buku yang fenomenal, buku yang pada akhirnya banyak menjadi refrensi mata kuliah mahasiswa se Indonesia atau bahkan dunia sehingga mendapat undangan ke berbagai Universitas. Karena bukankah Universitas merupakan sarang ilmu pengetahuan? Atau kenapa bukan seseorang yang telah membuat sebuah gerakan sosial yang sampai sekarang masih ada dan dapat bertahan dalam menjawab keresahan masyarakat terhadap permasalahan sosial? Karena bukankah ilmu pengetahuan yang selama ini kita cari ditunjukan untuk memecahkan suatu permasalahan? Lalu kenapa bukan seorang insinyur yang sudah menemukan sebuah alat canggih nan mutakhir sehingga kita dapat membanggakan karya sendiri? Kenapa harus motivator?

Salah? Tidak kok, tidak ada yang salah dengan memberikan kata-kata mutiara pembangkit semangat terhadap kumpulan anak bau kencur. Karena memang manusia perlu dipantik untuk mendapatkan suatu hal yang maksimal. Toh, Joe sendiri mau tidak mau harus menikmatinya, karena itu merupakan acara wajib yang apabila tidak dikerjakan akan membuat ia harus mengulang PKKMB tahun depan. Intinya sih, terpaksa karena dipaksa.
Sekarang kita biarkan Joe menjalankan ospek-nya dan kita akan amati hal menarik yang terjadi selama ospek. Dimulai dari sebenernya apasih esensi dari penyambutan mahasiswa baru itu sendiri? Bagaimana panitia menyiapkan sebuah perlehatan akbar didalam dunia kampus?

Jika kita tengok berbagai nama telah disematkan kepada ritual akbar semacam ini seperti OSPEK, OSMARU, PPSBM, rangkaian Kamaba, hingga PKKMB maupun nama lainnya. Semua itu sesungguhnya memiliki tujuan yang sama, yaitu mengenalkan kehiduapn kampus. Betul tidak? Mulai dari tekanan terkait tugas-tugas hingga beragamnya manusia yang hidup di kampus, namun muncul pertanyaan apakah dengan durasi yang terbatas semua nilai yang ingin disampaikan oleh ritual ini cukup untuk maba (mahasiswa baru). Apalagi dikampus kita yang nama ritualnya mendapatkan PKKMB (sekilas terlihat seperti nama partai atau persatuan sepakbola) memiliki durasi acara yang hanya empat hari.

Memang kehidupan kampus begitu abstrak, akn ada banyak kejutan yang akan kita temui. Manusia dengan beragam ideologi, beragam watak, serta berbagai kemampuan yang tidak kita sangka dimiliki oleh sobat kita meskipun berasal dari SMA yang sama. Dan untuk semua itu tidak cukuplah bila digambarkan melalui ritual empat hari. Namun setidaknya maba memiliki satu waktu dimana mereka disambut oleh bapak-ibu serta mas-mba mereka bersama dengan teman-teman satu angkatannya. Sehingga sebagai awal perjalanan maba di kampus, mereka akan merasakan suatu sensasi penyambutan yang luar biasa, dengan catatan sensasi yang ada harus mendasar dan memiliki tujuan yang tidak hanya jangka pendek namun bisa membekas hingga jangka panjang. Lalu apa kabar ritual akbar di kampus kita terkhusus FISIP itu sendiri?

Saya rasa sensasi yang diharapkan terjadi didalam PKKMB tidak hanya dirasakan oleh maba, namun juga muncul didalam sudut pandang panitia. Mulai dari proses pembuatan konsep secara keseluruhan, detail acara yang diperhitungkan, hingga kisah misskom dari para pihak terkait dan tak lupa juga bagaimana berebutnya panitia di tingkat Universitas dengan panitia yang ada ditingkat fakultas perihal maba.

Memang berbagai macam dalih muncul dari kedua belah pihak ini, panitia tingkat univ berdalih segala macam hal yang mereka ‘hadiahkan’ ke maba memiliki tujuan untuk menggembleng mereka dan untuk menyatukan maba dari berbagai fakultas, baik? Tentu. Namun panitia tingkat fakultas juga tidak mau kehilangan adik-adik kesayangan mereka yang jelas-jelas memiliki hubungan yang lebih erat karena durasi acara PKKMB ditingkat fakultas memiliki porsi yang lebih dibanding tingkat Universitas yaitu sebesar 3:1. Lalu dimana masalahnya?

Masalah yang timbul adalah dengan keterbatasan durasi yang ada, maba dan juga panitia dipaksa untuk menuangkan segenap jiwa raganya untuk kelancaran acara ini. Panitia ingin maba menjalankan acara ini dengan alasan/dasar yang macam-macam, maba juga ingin mengenal dan menampilkan dirinya di kampus baru dengan alasan/dasar yang beragam juga. Benturan antara keinginan dari segala pihak dan keterbatasan yang ada dilapangan menyebabkan rangkaian acara ini memiliki banyak persinggungan. Pemberian tugas PKKMB yang membuat maba kebingungan, acara yang harus dilaksanakan seharian yang menguras tenaga serta pikiran yang tak terkira, juga tak boleh terlupa ketika sebagian manusia yang dinamakan Komisi Disipliner (yang belum tentu disiplin) untuk memasang muka tegang selama empat hari penuh yang tentu juga melelahkan.

Namun pada akhirnya dapat kita lihat banyak manusia yang pada akhirnya memasang senyum di wajah mereka, entah karena memang mereka menikmati PKKMB dan menjalankannya dengan menyenangkan, atau karena tuntutan pose selfie yang akan dipamerkan kepada dunia, atau bahkan senang karena pada akhinrya mereka tidak harus kembali mengerjakan tugas serta rutinitas PKKMB yang kita semua belum tahu secara pasti apa makna/esensinya. Yang jelas ketika berakhir banyak orang yang senang.

Dan tak ketinggalan pula Joe yang juga gembira karena ikut hanyut dalam kemeriahan penutupan PKKMB, dimana dia diminta melepaskan burung bersama TNI dan memecahkan sebuah rekor MURI yang memiliki tujuan untuk menumbuhkan rasa cinta kembali kepada olahraga bulu tangkis, yaitu dengan memainkan kok dan raket secara beramai-ramai, wow begitu meriahnya. Namun Joe bertanya apakah rasa cinta bisa muncul hanya karena sebuah acara yang kurang dari 10 jam? Tapi maafkanlah Joe yang memang susah untuk merasakan rasa cinta, karena toh rangkaian kemeriahan PKKMB pada akhirnya akan menjadi ajang adu gengsi baik dengan fakultas lain maupun dikampus lain sehingga membuktikan siapa yang paling pecah. Ya kan?

Namun tidak semua pihak merasakan sensasi pecah tersebut. Terkecuali panitia yang pada akhirnya harus merasakan sebuah kesedihan karena mereka menyadari semua ini telah berakhir. Tiga bulan mereka berada didalam satu kepanitian dan atap yang sama, jelas bukan hal yang sebentar. Banyak yang nangis lho.
Akhir kata mungkin tujuan dari tulisan ini adalah untuk merefleksikan kembali apa yang Joe dan maba lainnya rasakan, juga tak ketinggalan untuk panitia yang terlibat. Siapapun kalian dan dari fakultas serta kampus mana kalian berasal. Kalian telah melakukan suatu hal yang luar biasa dengan gaya kalian masing-masing dan jangan lupa bahwa kalian HEBAT.

Oiya, khusus untuk sosial muda saya memiliki surat cinta untuk kalian di Di Sini

Arief Noer Prayogi, buntalan daging yang dibalut dengan seyuman. Dimana berkat ridho-Nya yang melalui konspirasi semesta dapat berada di Ilmu Komunikasi FISIP UNS