1493350459583
Hebatnya Papa Ravik
April 28, 2017
1493350476484
Peran Bahasa Inggris Dalam Menghadapi Perkembangan Ekonomi dan Pendidikan di Indonesia
April 28, 2017
Show all

Sebuah Analogi Bodoh?

1493350485764

Aku sedang berjalan di sebuah jalan menuju satu tujuan. Beberapa saat yang lalu ketika aku berjalan sebelum berada di titik koordinat dimana aku berdiri sekarang, salah satu tanganku menggaruk-garuk kepala tepat di luar otak kecilku berada.

Sepersekian detik ketika tanganku sibuk menggaruk, mataku melihat seorang temanku beberapa meter di depanku berjalan menuju suatu tujuan juga, pikirku. Tanganku yang lainnya pun melambai kepada temanku sembari mulutku menyapanya ditambah wajahku tersenyum berkembang. Pada saat itu tanganku yang pertama masih saja menggaruk kepalaku tepat di luar otak kecilku, karena memang gatal masih terasa di sana.

Sejenak kemudian ketika semua momen itu berakhir, aku berfikir “Ternyata semua bagian dari tubuh ini memiliki tugasnya masing-masing” tapi “Apakah cara kerja ini bisa aku terapkan ke dalam cara kerja sebuah organisasi?” Aku tetap berjalan perlahan melewati temanku dan tetap menggaruk kepalaku, dengan sedikit raut senyum tertinggal di wajahku.

 

ANALOGI BODOH

Sebuah pertanyaan bodoh kembali muncul “Dapatkah sebuah sistem kompleks yang ada dalam tubuh makhluk hidup ditiru dan diaplikasikan dalam sebuah organisasi?”

Dengan sedikit beradu argumen dalam fikiranku, pada saat itu akhirnya aku berani menyimpulkan bahwa itu dapat terjadi dan memang terjadi, namun tidak seluruhnya terjadi. Sebuah kesimpulan yang banal menurutku, kesimpulan yang terlalu cepat ditarik, kesimpulan yang tidak mudah ku pertanggungjawabkan secara ilmiah. Namun bagaimana pun, akhirnya saat ini aku tetap mengaplikasikan cara kerja ini dalam organisasi tempatku berada.

 

BEM FISIP UNS

Mungkin tak perlu ku jelaskan dengan lebih detail apa itu BEM FISIP UNS ketika pembaca telah membaca bacaan ini dari website dimana bacaan ini bisa dibaca. Sebagai sebuah organisasi kemahasiswaan yang dibentuk secara demokratis oleh sistem demokrasi yang terjadi di dalam lingkup keluarga mahasiswa, sebuah Badan Eksekutif Mahasiswa memiliki fungsi ke dalam dan ke luar, begitupun BEM FISIP UNS.

Fungsi ini dapat dipisahkan namun harus tetap beriringan. Itulah alasan munculnya sembilan kementerian dan satu badan di organisasi BEM FISIP UNS, yang memiliki fungsi masing-masing dan harus tetap beriringan tentunya.

Agak aneh rasanya ketika ada seseorang yang berpendapat bahwa BEM harus bergerak ke ranah isu politik saja, atau masalah sosial saja atau mungkin hanya advokasi semata. Ya tak apalah, namanya juga berpendapat. Namun pendapat itu akan terasa lebih aneh ketika dilontarkan oleh orang yang menurut kabar yang beredar, pernah menjadi aktivis di BEM.

Menurut hemat saya, ketika ada yang mengatakan bahwa bencana Kelaparan di Somalia bukan ranah BEM dan BEM tidak perlu melakukan penggalangan dana, itu merupakan bentuk pemikiran yang dangkal. Apalagi ketika dibandingkan dengan permasalahan advokasi mahasiswa dan transparansi di fakultas oranye.

Kenapa dangkal? Karena, pertama, bencana kemanusiaan tidak dapat dibandingkan dengan permasalahan advokasi. Bencana kemanusiaan sudah ada bagian sendiri di dalam BEM yaitu Kementerian Sosial Kemasyarakatan, sedangkan permasalahan advokasi mahasiswa dan transparansi adalah ranah Kementerian Advokasi dan Kesejahteraan Mahasiswa kolaborasi dengan Direktorat Kajian Kampus (Kementerian Kajian dan Penyikapan) , Badan Koordinasi Antar Lembaga, dan Kementerian Penelitian dan Pengembangan.

Kedua, tanggap bencana merupakan kegiatan insidental yang dilakukan forum Sosial Kemasyarakatan BEM se-UNS ketika ada bencana alam maupun bencana kemanusiaan dengan tetap memperhatikan kemampuan mahasiswa. Memang, dana yang terkumpul tidak lebih banyak daripada billboard baru di depan gedung 4, tapi setidaknya dana tersebut dapat membantu mereka yang membutuhkan uluran tangan kita. Sembari mengajak mahasiswa untuk ikut prihatin dan berdoa bagi keselamatan rakyat Somalia.

Ketiga, permasalahan advokasi mahasiswa dan masyarakat sudah ada jalan sendiri, hanya saja memang belum terlihat karena advokasi tidak dapat dilakukan hanya dalam waktu singkat.

Jika ditarik kesimpulan analogi cerita di awal. Ketika salah satu tangan menggaruk-garuk kepala, sama dengan Adkesma, Kajian Kampus, BKAL dan Litbang yang mengerjakan fungsi ke dalam. Ketika mata melihat seorang teman, sama dengan kepekaan BEM melihat bencana Somalia. Ketika salah satu tangan yang lain melambaikan tangan dan mulut menyapa, sama dengan Sosma yang mengerjakan fungsi ke luar untuk mengajak para mahasiswa ikut prihatin dan berdonasi bagi Somalia. Dan pada saat itu, sebagian otak juga masih bekerja memikirkan hal lainnya, sama dengan Presiden BEM yang harus selalu bekerja memikirkan semua kementerian dan badan agar tetap berjalan beriringan.

Ya kurang lebih seperti itulah gambaran peng-analogi-an bodoh yang sempat aku pikirkan setelah menggaruk-garuk kepalaku yang gatal. Dan tulisan ini ditulis oleh Arief Mugu, ketika kepala botaknya sudah tak lagi terasa gatal.

 

 

 

bem
bem