Petaniku Malang, Petaniku Sayang

1491029271284
Memilih Kendeng atau Gendeng, Tetap Ada ‘Ganjar’annya.
April 1, 2017
1491029255147
Drama Kendeng Tak Kunjung Rampung
April 1, 2017
Show all

Petaniku Malang, Petaniku Sayang

1491029262617

Semenjak salah satu petani asal Kendeng meninggal dunia, Yu Patmi, pemerintah mulai gonjang-ganjing mempermasalahkan ini. Pada waktu itu, Almarhumah Yu Patmi turut serta mengikuti aksi membelenggu kakinya dengan semen berhari-hari demi terkabulkannya keinginan mereka, yaitu dibatalkannya pembangunan pabrik semen di Kendeng.

Beberapa bulan yang lalu, Mahkamah Agung sudah mengabulkan gugatan warga kendeng membatalkan izin pabrik semen di daerah Kendeng. Sebelumnya, Presiden Jokowi memerintahkan Kantor Staf Presiden bersama Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk membuat Kajian Lingkungan Hidup Strategis. Dan hasilnya menyebutkan bahwa Kawasan Cekungan Air Tanah Watu Putih di Kendeng merupakan kawasan Karst yang harus dilindungi secara Lingkungan Hidup dan tidak boleh ditambang.

Walaupun sudah ada keputusan pengadilan yang sah, pada Februari 2017, Gubernur Jawa Tengah mengeluarkan izin tentang pembangunan baru dengan sedikit perubahan wilayah. Bukannya itu sama saja membohongi rakyat, ibarat keluar kandang singa masuk lubang buaya? Kalau ini hanyalah taktik untuk menutup mulut warga, sungguh hal ini tidak mencerminkan pengayoman. Padahal Gubernur Jawa Tengah berjanji untuk bersih, jujur dan melakukan transparansi dalam pelayanan publik. Pada kenyataanya beliau justru tidak melakukan transparansi terhadap rakyat Kendeng, terutama petaninya. Hal tersebut hanyalah pemanis bibir ketika pencarian atensi saat perebutan kursi.

Sebagai petani dan rakyat kecil, mereka tak bisa berbuat apa-apa selain melapor langsung kepada pihak yang paling tinggi wewenangnya di Indonesia, siapa lagi kalau bukan Presiden. Mereka berbondong-bondong datang ke Jakarta untuk melakukan pengaduan dan melakukan aksi. Tujuannya menagih janji dan menagih keberanian Presiden Jokowi dalam mengambil keputusan yang tegas serta protes akan tegaknya hukum di semua kalangan masyarakat. Namun yang mereka dapatkan hanyalah ketidakpastian dari pemimpin negara.

Mengingat ke masa lalu, kejadian ini seperti penjajahan Jepang dimana petani berlakon sebagai pribumi yang mendapatkan kemenangan hanya sebentar, lalu mereka ditindas dan tidak bisa berbuat apa-apa, harus mematuhi pihak atasan. Sedangkan, pemerintah daerah sebagai pasukan Jepang yang seenak udelnya berbuat semau mereka, salah satunya mengingkari janji.

“Alangkah lucunya negeri ini” adalah kalimat yang pas untuk keadaan ini. Sebagai pemimpin daerah tertinggi, seharusnya dia bisa menganyomi warganya dengan baik dan bisa mencontohkan kepada warganya bagaimana menjadi pemimpin yang baik, salah satunya patuh akan keputusan Mahkamah Agung. Begitupula dengan pemimpin pusat atau biasa kita sebut “Presiden” seharusnya menepati janjinya akan menutup segala aktivitas PT Semen Indonesia di Rembang dan lebih berani mengambil tindakan tegas kepada Gubernur Jawa Tengah untuk mematuhi keputusan Mahkamah Agung. Mungkin mereka sedang berkolaborasi. Bisa jadi iya, bisa jadi tidak. Atau hanya menjadi sebuah bisa jadi.

Sebagai mahasiswa biasa yang hanya bisa mengutarakan pendapat maupun opini melalui keyboard mungil ditemani secangkir teh hangat berharap, semoga Kendeng beserta petaninya aman, sejahtera dan mereka bisa mendapatkan keadilan yang sebenar-benarnya. Petaniku malang, petaniku sayang. Tanpa kalian kami tak bisa makan.

 

Sedikit puisi untuk petani Kendeng, dari saya, mahasiswi yang biasa saja.

Petaniku malang, petaniku sayang,

Dengan gagah kau pertahankan lahan

Dengan gagah perjuangkan kemaslahatan rakyat

Petaniku malang, petaniku sayang,

Tanpa kalian kami tak bisa makan

Berjuanglah pejuang,

Saat kau menoleh ke belakang, ada kami untukmu

 

 

Husna Nur Awalina (Ilmu Komunikasi 2016)

bem
bem