title

Blog

 
Posted by bem in Perjuangan

Katanya, Nenek Moyangku Pelaut?

Dahulu, aku begitu takjub menyimak dongeng kakek, membayangkan betapa maha sempurnanya tanah kelahiranku yang diberi nama Indonesia. Tak salah jika sesiapa yang mengenalnya, menyebut Indonesia lah sepenggal surge di dunia. Semasa kecil, lagu “Nenek Moyangku Pelaut” pun begitu membius kanak-kanak sepertiku, membuat setiapnya membayangkan alangkah menyenangkan berlayar melintas lautan biru diantara gugusan pulau Indonesia seperti nenek moyang. Lagu “Menanam Jagung” juga tak kalah membuat kanak-kanak ingin mencicipi rasanya mencangkul dan berladang di lahan hijau negeriku yang bisa dinikmati sejauh mata memandang. Duh, siapa yang tak bangga terlahir di Indonesia?

Konon kata kakek, Indonesia tak hanya memiliki hutan hijau dan lautan biru yang bisa kita temui kemanapun pergi. Rupanya, dibalik keindahannya, tanah ini juga menyembunyikan bergunung-gunung emas, berlimpah minyak dan batu bara, jutaan ragam flora dan fauna, hingga kakek sering sekali berujar “Indonesia kita begitu kayaaa, cucuku!” Dan untuk kesekian kalinya aku begitu mengagumi tanah dimana panji merah putih-nya berkibar tinggi. Duh, siapa yang tak bangga terlahir di Indonesia?

Masih banyak lagi cerita kakek, yang tak pernah membuatku bosan mengagumi Indonesia. Ya, aku rasa Tuhan begitu cinta pada negeri ini. Bukan hanya alamnya saja yang kaya, keberagaman suku bangsa, budaya daerah, bahasa daerah, lagu daerah membuat negeriku semakin membuktikan kekayaannya. Pulau-pulau yang berjejer mempesona dari sabang sampai merauke, melahirkan masing-masing keunikan budaya. Tak ada putra-putri bangsa yang tidak bangga memiliki keindahan budayanya. Ya, membuat sesiapapun enggan berhenti mengenal Indonesia. Duh, siapa yang tak bangga terlahir di Indonesia?

Aku selalu takjub mendengar kakek bertutur dengan semangatnya, menceritakan satu dua dan banyak lagi nama-nama yang disebutnya. Kata kakek, merekalah yang berjuang dengan bamboo runcing ditangan, hingga hari ini Indonesia bisa merasakan nafas kemerdekaan. Mereka bernama pahlawan, begitu kakek menyebut. “mereka sudah berjuang untuk kemerdekaan ini, cu. Maka, mari kita jaga bangsa Indonesia.” Aku pun mengangguk sepakat, hingga kecintaanku pada bangsa ini begitu terpatri dalam hati. Duh, siapa yang tak bangga terlahir di Indonesia?

Oh aku lupa, ada lagi yang membuatku makin cinta. Kata kakek, hidup di Indonesia begitu gemah ripah loh jinawi. Meskipun negeri ini memiliki beragam suku bangsa, namun setiap dari mereka begitu menghormati satu dengan lainnya. Inilah yang membuat Indonesia damai dan tenteram, tidak ada perpecahan diantara perbedaan, bahkan membuktikan persatuannya untuk merebut kemerdekaan. Ya, Gotong royong menjadi nafas setiap yang ada disini. Mereka tak kenal bekerja sendiri, yang mereka tau adalah saling membantu. Duh, siapa yang tak bangga terlahir di Indonesia?

Hingga pada 71 tahun kemerdekaan tanah pertiwi ini, aku tak pernah lupa pesan sakti kakek, “Cucuku, Tuhan telah berbaik hati menitipkan sepenggal surganya di tanah ini. Jika setiap manusianya bijaksana, maka luasnya lautan, hamparan hutan, dan melimpahnya kekayaan alam, telah lebih dari cukup menghidupi rakyat pribumi. Asalkan, tetap terpelihara budaya gotong royong, kerendahan hati, saling menghormati dan saling berbagi oleh anak cucu hingga nanti. Jangan lupa pula, bersyukur pada Tuhan, karena milikNya lah segala yang dititipkan. Dengan begitu, kau akan temukan kesejahteraan diantara keharmonisan hubungan manusia, alam dan Tuhan, melimpahi negeri ini.”

Itu tadi cerita kakek, dan pesan saktinya. Dan hari ini, aku menginjakkan kaki ditanah, tempat berjuta-juta merah putih sedang dilangitkan dengan gagahnya. 17 Agustus 2016, ketika genap 71 tahun Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya. Namun, salahkah jika aku semakin tak mengenali negeri yang katanya secuil surge ini? Ia seperti dekat dimata, namun jauh di jiwa. Dimana Indonesia? Bukan, ini bukan milikku. Ini bukan milik kita. Lantas, siapa gerangan yang memiliki?

Dimana Petani (?)

Hari ini, aku berdiri di antara balok-balok megah yang menjulang tinggi. Tak ada daratan hijau sejauh mata memandang. Tak kutemukan lagi pak tani yang harusnya menggarap sawahnya. Ternyata, mereka sedang tak berdaya di sudut kota, menyaksikan budozer-buldozer meratakan ladangnya. Kata pak tani, orang-orang saat ini lebih bangga memiliki balok-balok megah, ketimbang lahan hijau bernama ladang dan sawah. Ingin kutanyakan pada kakek, “Bukankah kita masih butuh makan sayuran dan nasi dari pak tani?”

Dimana Pelaut (?)

Hari ini, aku berdiri di bibir pantai yang tak lagi kurasakan semilir anginnya. Gersang. Ombak biru yang dulu kakek ceritakan, telah menjelma menjadi aliran limbah. Mengubah biru menjadi kecoklatan. Hewan-hewan laut yang tak lagi bisa merasakan oksigen dalam lautan, akhirnya mengapung tak berdaya. Kuedarkan pandanganku sejauh mata memandang. Namun tak kutemukan nelayan yang sudah waktunya melaut menangkap ikan. Getir kusaksikan balok-balok tinggi juga ditancapkan diatas lautan, reklamasi namanya. Kata nelayan, mereka kehilangan tempat mencari ikan, karena lautnya sudah ditimbun dengan tanah. Ingin kutanyakan pada kakek, “Bukankah kita masih butuh air laut untuk hidup, dan ikan tangkapan nelayan?”

Dimana Gemah Ripah Loh Jinawi (?)

Hari ini, aku berdiri diantara muda mudi yang saling mencaci maki, melempar umpatan, bahkan gendering peperangan. Di depan layar pun kusaksikan, kerusuhan terjadi antar suku, antar agama, antar pemerintah dan rakyatnya. Dagelan para pejabat negeri pun semakin menambah sempurna keruwetan yang terjadi. Konflik antar kelas semakin mengakar, antara kekuasaan dan ketidakberdayaan. Tak berhasil kutemui makna Gemah Ripah Loh Jinawi, kerusuhan, permusuhan, tawuran, caci maki, tempat apa ini? Tak tega jika aku bertanya lagi pada kakek, pasti ia akan semakin bersedih.

Dimana Gotong Royong (?)

Hari ini, aku berdiri diantara orang-orang yang berlalu lalang sibuknya. Klakson kendaraan yang saling bersautan, langkah kaki yang berkejaran satu sama lain tak ingin didahului. Jangankan saling melempar senyum, tak ada lagi interaksi, mereka sibuk dengan dirinya sendiri. Kulihat seorang nenek tua menyeberang jalan, dengan tongkatnya saja ia menyebrang, tak ada yang peduli. Kusaksikan seorang ibu yang repot membawa ketiga anaknya, berjubel berdiri di transportasi umum, tak ada yang merelakan tempat duduknya. Ada yang bersibuk dengan layar kecil ditangannya, ada pula yang pulas tertidur. Katanya, urus saja urusanmu. Ingin kutanyakan pada kakek, “dimana gotong royong?” ah, tapi sudahlah, itu hanya akan membuatnya bersedih hati seperti ibu pertiwi.

Dimana indonesia (?)

Hari ini, aku berdiri diantara gemerlap cahaya yang bukan bintang. Melainkan, sorotan gedung-gedung dan lampu jalan membuatku sukar menemukan sepasang bulan dan bintang. Kuendarkan pandanganku, heran. Mengamati muda mudi yang begitu bangga menghabiskan malam dibawah kelap kelip lampu diskotik. Padahal, jauh lebih asyik bercengkrama bersama teman bahkan keluarga di rumah. Ada lagi, gerombolan yang lebih suka memarkirkan mobilnya di konser-konser berkelas internasional. Ah, pantas saja pertunjukan kesenian daerah semakin kehilangan peminatnya. Orang-orang pun lebih memilih mengenyangkan perut dari makanan-makanan impor, ketimbang menyantap pecel lele, nasi opor, atau gado-gado buatan rumah sendiri. Tak hanya itu, baju-baju kurang bahan berlabel trend mode dunia rasa-rasanya lebih banyak diminati, ketimbang batik atau kebaya yang begitu santun dikenakan. Umpatan “damn” “shit” dan “fuck” pun saat ini lebih kerap terdengar daripada sopannya ibu bapak kita mengajarkan “tolong” “maaf” dan “terima kasih”.

Dimana Indonesia berserta segenap miliknya? Ia seperti tak ada. Lantas, siapa gerangan yang memiliki?

Aku rindu cerita kakek tentang sepenggal tanah surga, Aku percaya semua itu bukanlah dongeng muluk-muluk kakek tentang negeri yang dicintainya. Secuil kenikmatan surge itu, memang milik Indonesia. Hanya saat ini, kita sedang kehilangannya. Kawan, mungkin satu, dua atau banyak duka negeri hari ini, adalah kita yang ciptakan. Dan yang semestinya kita lakukan, adalah bukan saling menyalahkan, namun mari perbaiki kesalahan.

Jakarta, 17 Agustus 2016

Semoga sakralnya upacara bendera pagi tadi, diikuti semangat juang untuk memiliki Indonesia kembali. Sehingga, jika dunia bertanya “Siapa gerangan yang memiliki?” maka dengan bangga kita jawab, “Tanah ini milik pribumi”

Atas nama bangsa Indonesia, Merdeka!

Uzlifatul Jannah Lizana

Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP UNS