Memilih Kendeng atau Gendeng, Tetap Ada ‘Ganjar’annya.

ANTV KAMPUS KEREN UNS
DAFTAR PESERTA SEMINAR “MARKETING COMMUNICATION DI TELEVISI” by Kampus KEREN ANTV
March 1, 2017
1491029262617
Petaniku Malang, Petaniku Sayang
April 1, 2017
Show all

Memilih Kendeng atau Gendeng, Tetap Ada ‘Ganjar’annya.

1491029271284

Ketika saya melihat berita tentang pendirian pabrik semen di daerah Pegunungan Kendeng, saya langsung tertarik dengan apa yang dilakukan oleh para petani di dalamnya. Tentu saja, saya mencari tahu tentang apa yang dilakukan oleh pemerintah, masyarakat, dan media. Setiap beritanya, menurut saya, selalu mengeluarkan aroma politik, uang, dan kekuasaan yang khas. Sangat Indonesia. Akan tetapi, semua itu tidak menghilangkan ketertarikan saya terhadap Petani Kendeng. Lebih tepatnya, saya tertarik kepada setiap petani yang mau dan telah berjuang melawan pendirian pabrik semen di daerah di mana mereka dilahirkan, hidup bercocok tanam, serta menguburkan setiap kerabat dekatnya yang telah meninggal. Ketika mereka terus-menerus melawan pendirian pabrik semen, ada hal-hal yang kemudian terjadi dalam skala nasional dan keadaan ini tidak dapat dianggap sepele.

Semua berawal dari mata, merembet ke telinga, dan pada akhirnya jatuh ke hati. Saya mulai membaca kisah-kisah mengenai perjuangan Petani Kendeng, mendengarkan beritanya, dan pada akhirnya hati saya mulai berbicara. Tentang afeksi, itu sudah pasti. Namun, saya tidak ingin membatasi pemikiran saya hanya dengan afeksi dan subjektifitas. Saya mulai memikirkan cara yang lebih objektif dalam menjelaskan mengapa perjuangan Petani Kendeng menggoreskan sebuah keresahan dalam hati saya. Pada akhirnya, saya mendapatkan jawabannya. Walaupun ini hanya sekadar pendapat, mungkin hal ini juga yang menyebabkan keresahan itu ada di hati kamu, ada di hati kita, dan bersatu padu menjadi keresahan publik di skala nasional. Mungkin loh.

Hal yang pertama adalah karena mereka memiliki identitas. Masyarakat Kendeng yang notabene bekerja sebagai petani memiliki identitas dan tidak malu akan identitas tersebut. Seringkali mungkin, dalam masyarakat luas, profesi petani merupakan profesi yang sangat rendah. Setidaknya, tidak ada yang menganggap status mereka setara dengan para usahawan yang meraup jutaan rupiah perharinya. Namun, saya sendiri secara pribadi dapat mengatakan bahwa status petani sangat tinggi. Dalam lingkup yang luas, mereka lah penentu ketahanan pangan kita dalam garis agraria di ruang lingkup Indonesia. Hal yang aneh bagi saya adalah para petani itu tidak memiliki pengetahuan bahwa mereka lah penentu ketahanan pangan. Hal yang mereka ketahui adalah bercocok tanam dan bahkan mereka tahu di luar sana ada banyak orang-orang yang bisa dianggap sukses, tetapi orang-orang itu bukanlah petani. Keanehannya terletak di hati para petani yang justru dengan pengetahuan yang seperti itu tetap mau bercocok tanam dan tetap bangga akan identitas diri mereka sebagai petani.

Kedua, mereka memiliki semangat juang. Merasakan panas tiap hari demi bisa makan atau bahkan memenuhi kebutuhan hidup lainnya sudah menjadi kebiasaan para petani. Bangun subuh-subuh, pulang ketika petang menyapa. Walaupun ada musimnya, pekerjaan bertani sehari-hari adalah hal yang berat. Mereka terlatih untuk kuat, mereka terlatih menjadi pekerja keras, mereka terlatih menjadi orang-orang yang memiliki semangat juang yang tinggi. Sedikit-tidaknya, jika mereka diberikan kesempatan untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi, saya rasa mereka akan berjuang lebih keras dari kita yang justru sering titip absen. Hal itu sangat jelas dapat dilihat. Para petani tidak hanya kuat secara fisik. Justru mereka lebih kuat secara psikologis. Mereka tahu caranya mempertahankan semangat ditengah terik matahari ataupun hujan. Semangat juang mereka membuat mereka tidak gampang menyerah dan justru jarang mengalami stres dalam menghadapi sebuah permasalahan.

Ketiga, mereka memiliki solidaritas. Mau melihat Indonesia yang sesungguhnya? Lihatlah masyarakat pedesaan yang profesinya kebanyakan sebagai petani. Perhatikan ketika mereka tertawa bersama, susah bersama, kepanasan bersama, kenyang bersama. Kebiasaan gotong-royong yang ada di Indonesia justru terlihat di sana. Semangat gotong-royong kini memang sudah mulai lumpuh di dearah perkotaan. Akan tetapi, syukurnya, Tuhan masih sayang kepada setiap umat-Nya sehingga masih memberikan masyarakat desa sebagai contoh indahnya hidup berkomunitas dan saling bergotong-royong. Solidaritas para petani bukan karena mereka bekerja bersama saja, tetapi karena mereka tahu bahwa setiap individu yang tinggal di sekitar mereka adalah bagian dari diri mereka sendiri. Solidaritas mereka tidak ditipu oleh bayang-bayang individualisme dan profesionalitas pekerjaan. Inilah yang menyebabkan mereka sulit untuk dicerai-beraikan.

Jika diperhatikan baik-baik, identitas, semangat juang, dan solidaritas inilah yang membangung keresahan publik. Saya yakin, masyarakat lain tidak akan terusik dengan isu pabrik semen bila para Petani Kendeng tidak memiliki identitas yang mereka pertahankan. Mereka tidak malu ketika lantang menyuarakan bahwa mereka sebagai Petani Kendeng menolak pendirian pabrik semen. Tipe kebanggaan terhadap identitas seperti inilah yang sekali lagi menyalakan api semangat masyarakat Indonesia untuk membela Petani Kendeng. Masyarakat luas bahkan disadarkan untuk tidak malu membela petani, bahkan jangan malu menjadi seorang petani, karena itu merupakan salah satu identitas Bangsa Indonesia yang seungguhnya.

Tidak sampai di situ saja. Keresahan publik juga terbangun ketika melihat semangat juang para Petani Kendeng yang konsisten membela identitas mereka serta tanah mereka. Sekian kali turun aksi, sekian kali membuat petisi, sekian kali menghadap hakim tinggi, bagi mereka itu merupakan sebuah langkah yang pasti. Tidak heran ketika pada akhirnya banyak masyarakat mulai turun, banyak aktivis mahasiswa maupun lembaga sosial yang mengadvokasikan Petani Kendeng terhadap kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat. Keadaan ini, sungguh tidak akan terjadi jika para petani tersebut tidak terlatih dalam berjuang baik secara fisik maupun psikologis.

Pada akhirnya, sifat solidaritas dari para Petani Kendeng bisa membawa persepsi publik untuk belajar arti dari solidaritas. Bukan hanya memperjuangkan hak rakyat, melainkan juga belajar turut merasakan apa yang sebenarnya dirasakan oleh para Petani Kendeng. Lihat apa yang terjadi kemudian. Banyak aksi yang bertajuk “Solidaritas” akhirnya terjadi hampir di seluruh daratan Jawa, bahkan sampai keluar Jawa. Melalui perjuangan mereka, Masyarakat Indonesia diajarkan bagaimana menjadi “Indonesia yang sesungguhnya.” Sampai titik inilah, menurut saya, hasil dari perjuangan Petani Kendeng yang isunya muncul di Indonesia. Berita keadaan mereka viral, berita mereka terdengar luas, justru bukan dimulai dari masyarakat lain, mahasiswa, maupun media, melainkan dari para Petani Kendeng itu sendiri. Pertanyaannya sekarang adalah: pilih Kendeng, atau pilih Gendeng? Semua pilihan di tangan kamu. Namun, jangan lupa. Setiap pilihan, tetap ada ‘ganjar’annya.

Akhir kata, sambut salam saya, salam Cinta atas nama Perjuangan:

Hidup Mahasiswa!

Hidup Masyarakat Indonesia!

Kendeng, Lestari!

 

Ivander Jordan Leong  (Sosiologi 2016)

bem
bem