kantong-plastik-sampah
Ayo Diet Bareng!
February 21, 2016
_MG_0412
Tuan Rumah atau Penjaja Panorama?
March 1, 2016
Show all

Maha Sampah

090623_botolplastik

Dimana-mana banyak sampah berserakan. Tak terkecuali di lingkungan Universitas Sebelas Maret yang kita tinggali ini. Ya. Kita tinggali sementara untuk belajar, sampai pada saatnya kita lulus kelak dan meninggalkan kampus ini dengan ribuan kenangan. Atau mungkin ratusan. Selain kenangan yang kita tinggalkan ada juga hal lain yang suka ditinggalkan mahasiswa UNS baik yang sudah lulus maupun yang belum lulus. Sampah. Ya. Terlalu banyak sampah yang saya lihat berceceran di tempat yang tersohor dengan label Green Campus nya ini. Tidakkah sampah yang berhamburan merusak nilai estetika dari kampus ini? Atau setidaknya mengurangi nilai keindahan yang sebelumnya katakanlah 9 menjadi 4?

Saya yakin dan percaya, mahasiswa yang berhasil masuk UNS adalah mereka yang memiliki tingkat kecerdasan melebihi orang biasanya. Tapi muncul kegelisahan dalam benak saya, kok sepertinya tingkat kecerdasan yang di atas rata-rata ini tidak dibarengi dengan kecerdasan sosial berupa rasa tidak suka terhadap sampah yang berserakan? Bahkan bisa jadi malah mahasiswa UNS yang mengotori kampusnya. Padahal seharusnya bagi mahasiswa yang berfikir, tentu akan merasa bahwa sampah selayaknya dibuang di tempat sampah. Seharusnya demikian.  Atau jika lebih cerdas akan didaur ulang.

Tapi mari kita kembalikan pada hakekat mahasiswa sebagai manusia biasa yang mana adalah tempat munculnya kesalahan dan lupa. Tapi jika yang terjadi adalah lupa dan lupa setiap hari, maka akan timbul pertanyaan. Apakah mahasiswa yang memang memiliki penyakit lupa yang sedemikian parahnya bahkan mungkin pikun? Dan jika melakukan kesalahan terus menerus, juga akan timbul kritikan bahwa sebaiknya manusia belajar dari kesalahan. Mungkin ini juga akibat dari nasehat di masa silam bahwa sebaik baik guru adalah pengalaman. Yang menjadi masalah adalah pengalaman yang seperti apa tidak dijelaskan. Sehingga pengalaman yang tidak baik malah menjadi acuan dalam mengambil tindakan. Tindakan dalam menyikapi sampah yang dihasilkan oleh dirinya sendiri.

Hmm. Tidak baik rasanya jika melakukan kritik tanpa memberi solusi. Toh saya yang menulis ini, belum tentu tidak membuang sampah sembarangan. Bisa jadi, sayalah yang menebar sampah di lingkungan kampus peringkat 4 versi 4ICU ini, pada malam hari. Tapi ya silakan mari kita berspekulasi menentukan siapa sebenarnya yang membuang sampah sembarangan dan memperburuk lingkungan di green campus kita. Marilah mari saling mengingatkan untuk mempergunakan tempat sampah sebagaimana mestinya. Kan kasihan yang sudah meletakkan tempat sampah. Kasihan juga rakyat yang pajaknya digunakan untuk menganggarkan tempat sampah. lha wong tempat sampah yang sudah disediakan malah tidak digunakan. Apa memang ada orang yang hobinya membuang sampah sembarangan? bila ada semoga di masa depan pemerintah kita akan menyediakan tempat rehabilitasi bagi orang orang dengan hobi membuang sampah sembarangan.

bisalah kita pungut botol plastik yang berserakan dan memasukkannya ke tempat sampah. Bagi saya sampah ini tidak berat kok. Tak sampai 40 kilogram. Atau bekas permen. Bisa juga rafia. Kalo memang tidak sanggup kurang kurangi saja kebiasaan jajan minuman berwadah yang potensial menambah sampah. Boleh kok menurut saya membawa gelas dari rumah atau kost atau kontrakan atau kalau tidak punya bisa meminjam yang memiliki. Toh sudah disediakan dispenser oleh pihak kampus. Dan untuk sampah lain kiranya mahasiswa bisa berfikir untuk menanggulanginya supaya tidak berserakan di sembarang tempat. Atau mungkin kita harus mengadakan pelatihan cara memasukkan sampah ke dalam tong sampah?

Sa’adinejad

 

Mahasiswa Hubungan Internasional FISIP UNS

saadfajrul.wordpress.com

bem
bem