_MG_0412
Tuan Rumah atau Penjaja Panorama?
March 1, 2016
IWD 16
Feminisme : Untuk Apa Ada ?
March 9, 2016
Show all

Melawan Dengan Musik, Mungkinkah?

index

Jika kita ingin bermain dengan definisi, musik dapat kita definisikan sebagai paduan nada-nada yang menghasilkan suatu harmoni. Musik sendiri bukanlah barang baru untuk industri hiburan, terlebih di Indonesia. Apalagi dengan semakin berkembangnya industri kreatif di kalangan anak muda, musik menjadi salah satu alternatif bagi anak-anak muda untuk mengembangkan kreativitasnya dan menoreh tinta emas untuk Indonesia. Mungkin saya terdengar klise sekaligus naif di kalimat terakhir, tetapi kiranya begitulah realita yang Tidak jelas kapan pertama kali muncul musik di dunia ini, yang jelas jauh sebelum saya, anda, kakek saya, kakek buyut anda lahir atau Raja Hayam Wuruk Lahir. Bicara soal musik, rasanya terlalu sempit jika kita melihat musik sebagai sarana penghibur manusia dari penatnya rutinitas. Musik memiliki kekuatan lain yang juga dahsyat jika dioptimalkan dengan baik. Musik mampu menggerakan dan menghimpun kekuatan masyarakat, betulkah?

Mari kita buka lagi buku sejarah zaman SMP pada bab kolonialisme penjajahan Belanda di mana Lagu Kebangsaan Indonesia Raya dilarang untuk diperdengarkan. Hal ini disebabkan oleh kekhawatiran penjajah akan tumbuhnya semangat nasionalisme dalam diri bangsa Indonesia. Lalu setelahnya pada zaman pendudukan Jepang di mana Jepang memperbolehkan kita untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya dan mengibarkan Bendera Merah Putih dengan syarat. Syaratnya tak lain adalah dengan mengibarkan bendera kebangsaan Jepang Hinomaru berdampingan dengan Bendera Merah Putih dan juga mendengarkan lagu kebangsaan Jepang. Hal tersebut dilakukan sebagai salah satu sarana untuk membiasakan masyarakat Indonesia terhadap Jepang dan hal-hal yang berhubungan dengannya, agar terpatri dalam benak masyarakat Indonesia bahwa Jepang benar-benar saudara tua Indonesia. Lalu ke fase pemerintahan zaman Soekarno, pada tahun 60‟an, di mana musik-musik Barat dilarang manggung dalam bentuk apapun di Indonesia, saat inilah Soekarno menjalankan Regulasi Politik Kebudayaan-nya. Hal tersebut dilakukan karena musik barat dianggap salah satu bentuk dari neokolonialisme kebudayaan di mana keberadaannya akan mengancam masa revolusi yang belum usai. Sehingga muncul pula kekhawatiran terhadap kalangan anak muda di Indonesia yang akan mengikuti tren budaya pop luar yang “tidak sangat Indonesia”. Pada zaman ini, Koes Bersaudara menjadi korban dari regulasi tersebut sehingga mereka harus mendekam di penjara selama 100 hari.

Selanjutnya pada zaman Orde Baru, lagi-lagi pemerintah menjalankan Regulasi Politik Kebudayaan-nya, kali ini Menteri Penerangan yang dijabat oleh Harmoko mengeluarkan „regulasi politisasi budaya musik‟. Pada tahun 1986, terjadi pencekalan terhadap lagu-lagu berlirik cengeng karena dianggap tidak sesuai dengan pembangunan karakter bangsa. Tak hanya berhenti di situ, pencekalan juga mengintai para musisi. Pada masa ini, musik-musik yang mengandung kritik nakal kepada pemerintah langsung dicekal. Musisi Iwan Fals misalnya, pada April 1984 terpaksa harus berurusan dengan aparat polisi selama dua minggu berturut-turut akibat menyanyikan lagi Demokrasi Nasi dan Pola Sederhana juga Mbak Tini di konsernya yang diselenggarakan di Pekanbaru. Pada masa ini pula akhirnya mulai tumbuh komunitas-komunitas punk di Indonesia, mengikuti negara asalnya–Inggris dan Amerika, yang sudah lebih dulu lahir pada tahun 1970-an sebagai bentuk perlawanan terhadap sistem sosial politik yang merugikan masyarakat menengah ke bawah, serta kritik terhadap kaum-kaum elit yang mempunyai gaya hidup yang hedonisme. Musik-musik punk kala itu seringkali menjadi penyemangat di tengah aksi-aksi demonstrasi di jalanan dengan lirik lagu yang tajam dan lugas. Komunitas punk yang memiliki prinsip untuk tidak bergantung pada budaya konsumerisme inilah yang membuat musik-musiknya tetap ada walaupun tidak memiliki ruang publik di media-media konvensional kala itu. Walau bukan beraliran punk, karya musisi jalanan seperti Iwan Fals ataupun Koes Plus sempat menjadi bulan-bulanan pemerintah pada zaman ini karena mengandung kritikan pedas kepada pemerintah. Dari sini saya dapat menarik satu benang merah yang dimiliki pada setiap zamannya, yaitu bagaimana setiap pemimpin dari zaman ke zaman memiliki kekhawatiran yang sama akan musik, walau didasari dengan motif yang berbeda-beda. Ini cukup menjadi bukti bahwa musik memiliki pengaruh yang besar terhadap keberlangsungan kondisi sosial dan politik suatu negara, tak hanya sekedar media penghibur dan penghilang penat saja.

Memasuki zaman Reformasi di mana saat ini setiap orang, musisi ataupun seniman diberi ruang yang bebas untuk berkarya. Dimulai dengan industri musik yang kini tumbuh menjadi industri yang kian seksi. Di mata anak muda industri ini berfungsi untuk mengaktualisasikan kemampuan mereka atau sekedar mencari panggung untuk menebar eksistensi. Di mata politisi, ini merupakan lahan sekunder yang jika digarap dapat meningkatkan bargaining position-nya, lihat saja ada berapa banyak media kampanye pada masa Pemilihan Umum yang menggunakan musik dan menggaet musisi-musisi kenamaan seantero nusantara, pasti tak terhitung banyaknya. Dan yang terakhir, tak bisa dipungkiri bahwa musik kini telah menjadi komoditas ekonomi dan politik di mana orang-orang berbondong-bondong untuk berbisnis di ranah ini.

Namun, semakin kesini, musik semakin kehilangan kekuatannya. Setiap pagi kita hanya disuguhkan dengan acara musik yang menampilkan musik-musik berbau romansa anak muda dengan bait-bait lirik yang minim makna. Apakah ini dampak dari trauma masa lalu? Ketakutan akan momok pencabutan izin tampil oleh pemerintah yang secara tidak langsung mengkerdilkan kreativitas musisi kita untuk bersuara tentang kondisi sosial politik sekitarnya, dan memilih untuk bermain di nada-nada aman saja. Atau ini pula dampak dari pergeseran musik sebagai komoditas ekonomi, sasaran empuk bagi kaum kapitalis di mana musik hari ini adalah cerminan dari keinginan pasar kita yang lebih tertarik dengan hal-hal berbau romansa dan percintaan ketimbang hal-hal yang memang sudah semestinya disuarakan. Mengusir  pragmatisme dari ranah industri ini sepertinya akan menjadi tantangan tersendiri di mana kaum kapitalis masih bercokol kuat di dalamnya. Padahal musik dalam hal ini sangat bisa untuk menjadi jembatan bagi setiap kalangan. Lihat saja bagaimana isu-isu tentang politik, sosial, hukum lebih sering diperbincangkan oleh orang-orang tua atau mereka yang pagi harinya masih sempat menikmati secangkir kopi panas sambil menonton editorial berita di stasiun televisi sementara anak-anak mudanya lebih memilih untuk berada di dalam arus mainstream budaya pop. Tapi tetap saja, putus asa bukanlah solusi.

Kita masih punya banyak pilihan musik yang berani dan tak hanya berorientasi pada pasar. Coba saja lihat teman-teman dari ranah musik indie; masih ada Navicula yang masih berjuang dengan aktivis-aktivis dan musisi-musisi Bali lainnya untuk menolak Reklamasi Tanjung Benoa, ada juga Sisir Tanah yang ikut dalam Antitank Project untuk menyerukan Jogja Ora Didol! Sebagai bentuk protes akan pembangunan hotel yang semakin tak terkendali di kota Jogja, ada Pandji Pragiwaksono dan JFlow yang melantukan kritik-kritik nakal untuk pemerintah lewat musik rap asyiknya. Memang ada banyak cara untuk menyampaikan pesan dan musik adalah salah satu medianya. Mengutip kalimat-kalimat yang selalu digaungkan oleh semangat komunitas punk waktu pertama kali terbentuk, di mana musik merupakan bentuk perlawanan, dengan mengesampingkan fakta apakah semangat yang dibawa komunitas punk di tahun 70-an itu masih dibawa hingga saat ini. Musik adalah media yang bebas nilai atau netral. Musik bisa kita gunakan untuk melindungi saudara kita dari gerusan budaya pop barat, bisa juga digunakan untuk menutup mata saudara kita tentang realita yang terjadi di masyarakat. Jika dianalogikan, musik itu ibarat belati, belati ini tentu dapat kita gunakan untuk mengupas apel dan menolong orang yang kelaparan atau bisa juga kita gunakan untuk membunuh orang, tergantung bagaimana si pemegang belati ini menggunakannya, yang dalam hal ini berarti musisi dan juga penikmatnya. Pertanyaan terakhir saya adalah, belati yang hari ini anda pegang akan digunakan untuk apa?

Penikmat Musik FISIP,
Anindya Roswita
Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP UNS

bem
bem