Sang Jingga Wants You!
February 11, 2017
celoteh jingga mahardhika
BHINNEKA YANG TAK LAGI IKA
February 15, 2017
Show all

KERINGAT DALAM PILKADA

celoteh jingga yogi-01

Diperlukan keringat didalam pilkada.

Detik-detik menuju tanggal 15 Februari 2017, sebuah tanggal yang cukup dinanti oleh berbagai macam lapisan masyarakat. Baik lapisan atas, bawah, kanan, dan kiri berbondong-bondong menantikan tanggal ini. Apalagi jika bukan Pemilihan Kepala Daerah serentak yang diselenggarakan lebih dari 100 daerah di seantero nusantara. Persiapan yang dilakukan oleh berbagai kelompok terus dilakukan didetik-detik terakhir, tim pemenangan yang membantu Paslon dalam berkampanye, KPU yang tak boleh kita lupakan dalam menentukan pilkada esok, hingga mimbar-mimbar yang terus mengumandangkan berbagai dalil dalam membahas penggunaan hak suara pada esok hari yang tentu kita sama-sama tahu membuat gaduh negeri ini mulai dari akhir 2016 hingga awal 2017. Namun berbeda dengan para pakar politik yang tentu akan membahas pilkada dengan sudut pandang melangit dan menggunakan pisau analisis yang membuat takjub, izinkan saya sedikit melipir dari keramaian untuk pergi menuju ‘persimpangan jalan’ dan sedikit menggunakan ‘cocok-logi’ dalam perkara pilkada. Karena jangan lupa, ada hal lain yang terjadi di tanggal 15 Februari ini.

Yaitu dimulainya babak penyisihan Liga Champions Eropa.

Pilkada dan Olahraga

Sialnya, ihwal Liga Champions nyaris luput dalam benak kita ketika semua orang dengan semangat membahas pilkada serentak kali ini. Sayapun harus rela kehilangan teman mengobrol untuk sementara waktu, dikarenakan dengan gagahnya ia pulang kedaerah asal demi memenuhi hak dan kewajibannya memilih pemimpin yang akan diberikan amanah. Bila kita menengok UU No.32 Tahun 2004 maka para pemimpin daerah diberi amanat untuk ‘mengadministrasi’ kebutuhan rakyat disebuah daerah provinsi dengan kewenangannya. Namun apakah kita puas apabila kepala daerah hanya sebatas itu saja? Tentu jawaban mutlak tak ada dalam tulisan ini, namun yang sama-sama kita sepakati adalah kepala daerah dengan apapun nama progam yang ditawarkan, baik relokasi, peremajaan kawasan, hingga pemukiman mengapung, tentu diwajibkan untuk ‘mengenyangkan’ dan ‘mencerdaskan’ rakyatnya. Karena jika persoalan pragmatis tidak terjawab maka sayang seribu sayang para paslon tidak akan laku. Oiya tak lupa pengadaan wifi dan lahan yang sedap dipandang untuk asupan akun sosmed kita! Wajib hukumnya!

Lalu apa hubungannya Liga Champion Eropa dengan Pilkada? Jelas ada. Coba bayangkan panita penyelenggara pilkada ataupun tim pemenagan yang disiapkan paslon diseluruh Indonesia—yang tentunya tak sedikit—harus merelakan hiburan yang dapat dinikmati oleh masyarakat lintas kelas. Jika memaksa menonton, tunggu saja kantuk menghampiri mereka karena sedari lama pilkada ini tentu banyak hal yang harus dipersiapkan sehingga menguras akal, meluapkan emosional, dan juga mengucurkan keringat.

Ah bola memang sudah dan seharusnya dekat dengan para pemimpin. Kita tengok saja bagaimana tempo hari pak presiden bermain futsal dengan riang gembira—setidaknya itu yang nampak didalam potret media—dalam rangka hari pers nasional. Dan tak lupa juga mantan presiden Amerika Serikat yang dekat dengan dunia bola basket hingga ada yang mencap Obama sebagai presiden amerika serikat teratletis yang pernah ada. Tak hanya melulu membahas keringat dan kesehatan, pun didalam olahraga juga ada sportifitas yang perlu untuk diangkat. Karena bukankah akan indah bila hal ini diterapkan ditengah pilkada ini. Ah, sialnya hal itu merupakan harapan utopis belaka, karena siapa yang mau kalah dalam partai final? Karena pemain akan menangis, begitu juga penyokong dana.

Memang sulit ketika berbicara sportifitas, bahkan didalam sepakbola dan basket. Karena ada saja orang-orang ‘alay’ yang mampir untuk memperkeruh suasana—biasanya tipe provokatif dan barisan sakit hati, begitu juga dalam politik. Biasanya para oportunis dan pendukung yang hanya ingin terhibur dan mengambil untung ketika para pemain sedang bertanding akan memutar otak dalam memenangkan paslon jagoannya.

Juga yang terasa mengganjal adalah disayangkannya pak Presiden kita hanya berolahraga selama tujuh menit, sehingga sportifitas masih dirasa kurang meresap kedalam benak pak Presiden. Hal ini—tanpa ada niat makar—terlihat jelas dengan diangkatnya kembali sang petahana ibu kota yang membuat kita semua bertanya, kok yang lainnya (pemimpin daerah) diberhentikan namun yang ini tidak?

Andai saja pak Presiden sekalian membuat klub sepakbola di istana, sedikit mencontek salah satu pemikir besar yang pernah dimiliki bangsa kita yaitu Muhammad Hatta yang tergambar dalam seri buku Tempo. Diceritakan bahwasanya Hatta bergabung dalam klub sepakbola tanah kelahirannya yang bernama Young Fellow dengan biasa menempati posisi gelandang tengah ataupun bek tengah (Tempo, 2010). Ah posisi yang cocok sekali dengan Hatta, dengan visi besarnya mengatur irama permainan bangsa dalam menyerang tantangan zaman. Namun jangan terlalu lama membahas permasalahan ibu kota karena pasti nanti keburu dibui sehingga tidak bisa menikmati liga champion eropa.

PIlkada hanya tinggal menghitung jam saja, setelah ini para lembaga penghitung cepat tentu akan berlomba-lomba mengeluarkan hasil perhitungannya dan media arus utama—sekali lagi, mungkin—akan membantu salah satu paslon untuk mengklaim kemenangannya. Kemudian para penonton akan heboh.

Dan jangan lupa, pilkada tak hanya ada di ibukota! Jangan sampai kita heran ketika trio Agus-Ahok-Anies tidak ada dilembar pemilihan kita. Sungguh, kota lain juga butuh perhatianmu sayang. Dan untuk penggemar Barcelona silakan berdoa yang khusyuk agar tim jagoanmu dapat membalikan agregat di leg kedua.

 

Arief Noer Prayogi

Tidak ikut pilkada, namun ikut ramai-ramainya saja.

bem
bem