kok-mahal
UNS Pakai BH
May 28, 2016
65ya-allah-aku-jatuh-cinta
Tentang Cinta yang Jatuh Padanya
June 5, 2016
Show all

Garudaku Kebanggaanku

pssi-garuda

PERSEPAKBOLAAN INDONESIA:

Indahnya Cerita dan Secercah Harapan

Di negeri ini, sepak bola adalah olahraga yang paling digemari oleh masyarakat selain olahraga yang lainnya. Banyak hal menarik yang dapat dibahas dari bidang olahraga ini, mulai dari sejarah, prestasi, pembinaan, dan hingga unsure industrinya. Melalui sepak bola, Indonesia pernah menancapkan namanya sebagai salah satu tim terkuat di Asia bahkan disegani di level dunia. Predikat “Macan Asia” pun pernah disematkan pada tim nasional (timnas) berjuluk “Garuda” ini. Melalui sepak bola pula, timnas Indonesia hampir menyentuh putaran final Piala Dunia Meksiko 1986. Sayang, saat itu kita harus takluk dari Korea Selatan. Namun demikian, begitu banyak kekisruhan dan masalah yang melanda persepakbolaan Negara kita. Celakanya, yang dikorbankan adalah prestasi dan martabat bangsa. “Garuda” pernah diporak-porandakan oleh sepuluh gol tanpa balas oleh Bahrain, tim yang pernah kita kalahkan di Jakarta pada putaran final Piala Asia 2007 penampilan terakhir Indonesia hingga detik ini. Bangsa ini juga pernah dipermalukan di dunia internasional lewat tindakan tidak terpuji elite PSSI yang bersikap egois, hingga pengurus federasi terpecah menjadi dua kubu.

Setahun lalu, tepatnya pada 17 April 2015, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) kita menjatuhkan sanksi pembekuan bagi PSSI. Seperti efek domino, ternyata keputusan tersebut berbuntut panjang hingga detik ini. Liga sepak bola terhenti akibat konflik PSSI-Kemenpora, bahkan Indonesia dilarang FIFA untuk mengikuti turnamen internasional karena Menpora dianggap mencederai independensi PSSI. Sanksi dari FIFA tersebut mengakibatkan tim nasional Indonesia dan seluruh klub asal Indonesia tidak dapat berlaga di kompetisi resmi FIFA dan AFC. Kecewa? Tentu jelas! saya rasa semua pihak setuju dengan apa yang terjadi sekarang dengan persepakbolaan Indonesia, yang tak kunjung ada titik temu. Rasa egoism antar lembaga dan ditambah kepentingan politik menggerogoti tiang persepakbolaan Indonesia yang mana seharusnya itu tidak perlu ada.

Sepak bola secara prinsip terkait dengan tiga pilar substansial. Yaitu lapangan/infrastruktur, pemain plus pelatih, dan kompetisi yang berinduk pada federasi internasional. Dalam pentasnya sebagai industry olahraga profesional, menjadi tak kalah penting kompanyon suporter alias penggembira, sponsor/advertorial plus hadiah, dan tayangan televise. Namun itu semua menjadi tidak bisa berjalan akibat imbasnya dari pembekuan PSSI oleh FIFA. Setelah klub-klub yang biasanya berlaga di liga elite Indonesia menyatakan gulung tikar atau bubar. Para pemain terpaksa ikut lomba tarkam (jikaada), atau nganggur, atau banting setir ke pekerjaan yang tak berhubungannya dengan sepak bola, agar tetap berpenghasilan. Sangat miris bukan apa yang telah terjadi terhadap persepakbolaan di Indonesia yang merugikan banyak pihak.

Tapi Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Imam Nahrawi, resmimen cabut SK Pembekuan PSSI. Imam nahrawi selaku menpora telah menandatangani SK Pembekuan PSSI pada Selasa 10 Mei 2016. Habis gelap sepak bola Indonesia pada tahun2015, Terbitlah terang sepak bola Indonesia di tahun 2016, setelah mendapat kepastian pencabutan SK pembekuan PSSI. Asa itu muncul sebagai ekspresi kehancuran sepak bola Indonesia pada tahun 2015 karena pembekuan PSSI dan hukuman dari FIFA. Nyaris tidak ada yang dibanggakan dari sepak bola Indonesia yang hingga jelang 2016 belum menunjukkan ada tanda-tanda perbaikan.

Tak heran semua pihak pun berharap pada 2016 dan seterusnya nanti persepakbolaan Indonesia bakal kembali kondusif dan bisa kembali bergulir. Harapan yang berkumandang kini adalah perbaikan tata kelola sepak bola Indonesia yang berjalan merayap setahun terakhir baik karena pembekuan roda induk sepak bola Indonesia itu maupun akibat suspensi FIFA. Saya dan seluruh rakyat Indonesia berharap persepakbolaan Indonesia dapat kembali berprestasi di kancah internasional dan berharap Indonesia dapat kembali meraih prestasi di Asia Tenggara, Asia, dan dunia.

 

Ari Umar Basri

Ilmu Administrasi  Negara FISIP UNS

bem
bem