Drama Kendeng Tak Kunjung Rampung

1491029262617
Petaniku Malang, Petaniku Sayang
April 1, 2017
1493350459583
Hebatnya Papa Ravik
April 28, 2017
Show all

Drama Kendeng Tak Kunjung Rampung

1491029255147

Pro kontra yang terjadi sejak adanya pembangunan pabrik semen di Pegunungan Kendeng, Rembang, Jawa Tengah nampaknya memang dibiarkan berlarut-larut. Sudah lebih dari setengah tahun semenjak adanya rencana pendirian hingga pabrik tersebut telah beroperasi, aksi masyarakat yang tidak setuju dengan pendirian pabrik terus dilakukan. Kisruh yang bermula dari masyarakat yang ingin mempertahankan lestarinya Pegunungan Kendeng, pencabutan izin lingkungan pembangunan  dan pertambangan oleh Mahkamah Agung, hingga pada perintah Presiden Jokowi kepada Kantor Staf Presiden bersama dengan Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk membuat kajian lingkungan hidup strategis dan mencabut sementara izin operasi pabrik tersebut. Namun anehnya, Ganjar Pranowo selaku Gubernur Jawa Tengah malah kembali memberikan izin lingkungan meski jelas sekali terdapat putusan pengadilan berkekuatan hukum serta perintah presiden untuk menahan izin operasi pabrik PT Semen Indonesia di Rembang. Hal tersebut tentu menimbulkan tanya, bagaimana bisa perintah gubernur tidak sesuai dengan perintah presiden. Apa yang menyebabkan Ganjar Pranowo kembali memberikan izin terhadap pabrik tersebut padahal tim kajian strategis menyatakan bahwa kawasan Pegunungan Kendeng merupakan kawasan yang dilindungi dan tidak boleh ditambang.

Nampaknya kembalinya izin operasi dari gubernur menyebabkan masyarakat kembali memulai aksi seperti yang dulu pernah mereka lakukan. Mereka melakukan aksi dengan mengecor kaki di depan  istana negara dan meminta bertemu presiden. Aksi inilah yang mengawali peristiwa meninggalnya Patmi, salah satu warga yang mengikuti kegiatan tersebut. Beliau meninggal selepas ikut melakukan aksi dan terkena serangan jantung. Entah butuh berapa kali aksi dan berapa nyawa agar permintaan masyarakat Kendeng di dengar oleh mereka yang berhak menghentikan izin operasi pabrik semen. Dalam UU No. 32 tahun 2009 telah lengkap diatur usaha seperti apa yang berhak diberi izin untuk berdiri. Atau barangkali memang UU tersebut ada hanya untuk formalitas, karena tidak sedikit AMDAL yang dimiliki oleh suatu unit usaha memang tidak sesuai prosedur, hasil manipulasi, dan bodong. Lalu tindakan mana yang merupakan perilaku dari Pasal 33 ayat 3 UUD 1945 “Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan digunakan untuk sebesar-sebesarnya kemakmuran rakyat”. Dalam pasal tersebut dengan tegas menyebutkan bahwa semua untuk kemakmuran rakyat, atau mungkin untuk bisa disebut rakyat terlebih dahulu harus memenuhi syarat dan ketentuan yang diberlakukan oleh mereka yang seharusnya mengayomi dan memberikan contoh bagaimana mengaplikasikan landasan-landasan negara dalam kehidupan.

Setelah ini siapa yang harus bertanggung jawab, jika yang memiliki kuasa saja memberikan kesempatan pada pabrik semen untuk terus beroperasi. Sementara masyarakat terus kontra dengan adanya pendirian pabrik tersebut. Harus ada kompensasi yang sepadan untuk masyarakat sekitar Pegunungan Kendeng, selain mereka kehilangan lahan bertani, kelestarian lingkungan di kawasan tersebut juga penting sekali untuk diperhatikan jika izin operasi pabrik benar-benar diberikan. Kisruh ini akan semakin panjang jika tidak segera diatasi. Bukan tidak mungkin hal ini akan membawa permasalahan baru antara masyarakat dengan pemerintah selaku pemberi izin. Sementara pihak pabrik asik menjadikan kisruh ini sebagai tontonan, atau mungkin memang jalan ceritanya telah diatur sedemikian rupa, sudah ditentukan akhirnya walaupun masyarakat bersikeras mempertahankan alamnya.

Terlepas dari semua perdebatan dan kisruh yang terjadi, akan lebih baik bila apapun yang dititipkan anak cucu tidak menjadi sumber masalah, tetapi menjadi tugas bersama untuk dijaga. Akhirnya kelak ketika mereka menanyakan tentang titipannya kita tidak malu dengan jawaban yang ada.

 

Nur Elok Gunarsih (Administrasi Negara 2016)

bem
bem