Tuan Rumah atau Penjaja Panorama?

090623_botolplastik
Maha Sampah
February 23, 2016
index
Melawan Dengan Musik, Mungkinkah?
March 9, 2016
Show all

Tuan Rumah atau Penjaja Panorama?

_MG_0412

Menjadi manusia Indonesia adalah sebuah kebanggan, karena orang-orang Indonesia seakan telah melewati proses seleksi yang ketat agar bisa dilahirkan di tanah ini. Bagai proses seleksi masuk pergururan tinggi, kita yang terlahir di Indonesia seolah telah mengalahkan banyak orang untuk berkesempatan menjejali bumi Nusantara ini. Lantas, apa sebabnya?

Mau tidak mau, kita harus mengakui bahwa negeri ini mempunyai segudang masalah. Dan permasalahan yang berat itu mengharuskan setiap diri yang ada di Ibu Pertiwi mempunyai kesiapan dan ketahanan yang kuat dari segala problematika yang akan dihadapi. Poin ini cukup jelas kiranya, bahwa kita terlahir untuk menghadapi segala carut marut negeri dan kita adalah manusia hebat yang terpilih untuk melakukan tugas berat ini.

Namun, bukan hanya itu yang menyebakan kita harus bangga menjadi manusia Indonesia. Selain terpilihnya kita untuk menanggung amanah besar terhadap masalah Indonesia, setiap dari kita adalah manusia yang juga terpilih untuk sedikit mencicipi setetes surga yang mengalir ke bumi. Ya, tak perlu diragukan lagi, setiap orang Indonesia pasti sadar bahwa tanah tempat kita berdiri ini, menyajikan keindahan alam dan keunikan budaya di setiap jengkalnya. Bagai surga yang tak pernah lelah mata kita memandangnya. Keindahan alam, panorama, budaya dan pesona tanah air kita adalah istimewa. Tak setiap bangsa diberi kemasyhuran layaknya bangsa Indonesia.

Sementara saat ini, realita kehidupan memaksa setiap bangsa untuk dapat bertahan dalam terpaan persaingan global. Tentunya, keindahan alam dan budaya Nusantara akan dijadikan salah satu andalan bangsa ini untuk bersaing. Sudah sedari dulu banyak orang – orang asing yang mengagumi dan tertarik dengan pesona Indonesia. Dan banyak pula yang menempuh jarak beribu kilometer untuk berwisata di Indonesia. Menikmati Pariwisata Indonesia. Itu poinnya, Pariwisata.

Pariwisata di Indonesia sudah berjalan lebih lama dari usia negara ini sendiri. Pesona indahnya Indonesia telah disadari oleh Belanda yang saat itu menjajah bangsa kita. Indonesia era penjajahan telah menjadi salah satu tujuan wisata Eropa berkat promosi yang dilakukan oleh Belanda kepada masyarakat Eropa. Wilayah Eropa yang sudah terdampak revolusi industri dan kemajuan serta pertumbuhan penduduk menyebabkan, tergerusnya keindahan alam dan kondisi budaya yang ada di sana. Hal ini sedikit banyak memaksa mereka mencari tempat baru yang masih menyimpan keindahan dan keunikan luar biasa untuk memenuhi hasratnya akan wisata. Akhirnya, negeri jajahan pun jawabannya.

Lantas apakah hal tersebut berarti menguntungkan kita?

Jawabannya masih jauh dari harapan. Pengelolaan wisata masih dipegang oleh Belanda. Dan negeri ini hanya menjadi obyek untuk dinikmati pesonanya. Namun yang terpenting, Indonesia mulai diakui keindahannya.

Pasca kemerdekaan, pariwisata Indonesia menjadi hal yang penting sebagai salah satu sumber pendapatan negara. Sarana penunjang kegiatan wisata pun dibangun guna memberikan kenyamanan dan ketertarikan lebih. Bandara, terminal, hotel dan tempat – tempat wisata mulai diadakan dengan salah satu tujuannya untuk memperlancar arus masuk wisatawan. Dibentuknya kementerian yang mengurus perihal ini itu dan pembangunan berbagai kota wisata serta ajang perlombaan yang mengatasnamakan wisata menjadi bukti bahwa Indonesia menjadikan ‘pariwisata’ sebagai sumber pendapatan yang potensial. Alhasil, wisatawan asing pun mulai berdatangan.

Namun, keadaan pariwisata di Indonesia belum sepenuhnya baik. Pengelolaan wisata yang dijalankan di Indonesia masih banyak dipengaruhi oleh kebutuhan ekonomis. Pariwisata pun menjadi sebuah industri yang semakin jauh dari pandangan bahwa: “Kita adalah tuan rumah dan bertamulah, akan kita sambut dengan keramahan, keindahan dan kenyamanan. Sehingga, dari proses “bertamu” itulah kita akan mendapatkan keuntungan.

Sayangnya, industri pariwisata yang muncul seolah menyuguhkan keindahan alam Indonesia dan kekhasan budayanya sebagai obyek yang ditawarkan dan akhirnya dibeli oleh wisatawan. Pesona alam dan budaya seakan menjadi bahan untuk menarik pelanggan wisata membeli dan kemudian menikmatinya. Hanya menjadi produk dari wisata. Hal ini dapat dilihat dari keadaan akomodasi perhotelan yang jauh dari kesan Indonesia. Tata cara makan, menu, dan suasana yang ditawarkan berkiblat pada kehidupan dunia Barat dan tak banyak yang menjadikan budaya Timur sebagai acuannya. Apalagi menjamurnya diskotik, pub dan kafe bernuansa asing yang banyak diisi kegiatan yang jauh dari nilai luhur bangsa kita. Keadaan ini menyebabkan kita terpaksa menjadi seperti mereka, di negeri kita sendiri, demi keuntungan pariwisata.

Belum lagi keberadaan tangan – tangan asing yang ikut bermain mencari keuntungan dari pengelolaan pariwisata Indonesia. Banyak villa, hotel, resort serta sarana akomodasi lain yang justru dimiliki oleh orang asing, sementara penginapan-penginapan milik masyarakat pribumi semakin terendap dalam gemerlap pariwisata Indonesia. Yang paling miris, penggunaan mata uang asing, dollar atau lainnya masih marak ditemukan dalam transaksi wisata di negeri rupiah ini. Seakan menginjak – injak kedaulatan mata uang di rumah sendiri.

Bandingkan dengan keadaan sebaliknya, apabila wisatawan Indonesia akan berkunjung ke negara lain. Maka wisatawan kita lah yang harus menyesuaikan dengan pola kehidupan negara tujuan. Apakah pengelolaan wisata seperti itu tak bisa kita terapkan? Pengelolaan wisata yang menjadikan jati diri bangsa ini tetap tegak di mata wisatawan asing yang notabene “tamu” bukan hanya “pelanggan” yang telah membayar kita. Hal ini menyebabkan beberapa insiden yang kurang menyenangkan dilakukan wisatawan asing di Indonesia. Sebut saja tindakan penyiraman Tugu Jogja dengan cat, wisatawan yang mabuk – mabukan, tempat wisata yang kotor, kerusakan wisata alam akibat eksploitasi wisata berlebih dan sebagainya.

Keadaan ini seharusnya menjadi keprihatinan kita tersendiri yang menempuh pendidikan di UNS, di Kota Solo yang juga terkenal sebagai Kota Wisata. Pengelolaan wisata di Indonesia pun bukan hanya menjadi tanggung jawab badan terkait. Namun lebih jauh, hal ini merupakan tanggung jawab kita sebagai mahasiswa. Karena perubahan paradigma pariwisata hanya bisa dibangun lewat peran serta seluruh elemen masyarakat di dalamnya. Selain itu, mental “tuan rumah” harus dibangun agar martabat bangsa lebih terjaga.

Keberadaan duta wisata pun harus dijauhkan dari kesan “sales wisata”. Duta wisata seharusnya menjadi perwakilan masyarakat untuk mengenalkan potensi wisata, keluhuran bangsa, keunikan budaya dan yang terpenting menunjukkan kualitas pemuda – pemudi Indonesia. Bukan hanya sebagai strategi menarik “pelanggan wisata” untuk hadir. Budaya bangsa seharusnya lebih dalam ditekankan ketimbang penampilan dan keterampilan makan ala Barat.

Semua hal itu harus kita lakukan bersama. Potensi dan kelebihan yang telah dititipkan kepada kita seharusnya bisa kita gunakan sebijak mungkin. Dan setiap dari kita harus mau untuk melakukannya. Karena setiap manusia Indonesia layaknya hasil seleksi, yang akan diberi amanah dan tugas untuk memajukan kehidupan bangsa dan menyelesaikan segala masalahnya.

 
Faith Aqila Silmi

Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP UNS

 

bem
bem